ads

pelajaran dasar ibadah haji

Menunaikan ibadah haji adalah harapan setiap muslim. Selain sebagai rukun islam kelima, haji juga memiliki banyak sekali pahala dan keutamaan.  Setiap tahunnya jutaan umat islam menunaikan ibadah haji di Makkah, dan tentunya umat islam Indonesia yang sebagai negara islam terbesar di dunia tak mau ketinggalan event ibadah tahunan ini. Nah, pada kesempatan kali ini, akan kami berikan sedikit ilmu berkaitan dengan haji , yang semoga dapat bermanfaat untuk kita semua.


Pengertian Haji
Dalam bahasa arab, haji berarti al qashdu, yaitu bermaksud untuk melakukan sesuatu. Adapun menurut istilah syar’I, para ulama telah mendefinisikan bahwa haji adalah : suatu ibadah kepada Allah ta’ala dengan menunaikan manasik – manasiknya di tempat tertentu dan pada waktu tertentu sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu alaihi wa sallam.
Hukum Haji
Haji adalah salah satu rukun islam yang agung. Allah ta’ala mewajibkan ibadah ini kepada tiap hambaNya yang mampu.
“ Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim]; Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah]. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam “ ( Ali Imran : 97 )
Ibadah haji hanya wajib sekali seumur hidup. maka selebihnya adalah sunnah. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwasannya Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
يا أيها الناس قد فرض الله عليكم الحج فحجوا
“ wahai sekalian manusia, sungguh Allah telah mewajibkan atas kalian haji maka berhajilah “
Lalu berdirilah seseorang dan berkata “ apakah ( wajb ) tiap tahun wahai Rasulullah ? “
Maka beliau berkata :
لو قلت نعم لوجبت و لما استطعتم
“ seandainya aku berkata “ iya “ maka pasti diwajibkan ( tiap tahun ) dan tentunya kalian tidak akan sanggup “ ( diriwayatkan oleh Muslim : 1337 )
Dan juga karena Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam tidaklah berhaji setelah beliau hijrah ke madinah kecuali hanya sekali. Para ulama pun ijma’ bahwa haji tidaklah wajib atas orang yang mampu menunaikannya kecuali hanya sekali seumur hidup.
Keutamaan Ibadah Haji
Banyak sekali hadits yang menunjukkan keutamaan haji . Diantaranya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
العمرة إلى العمرة كفارة لما بينهما و الحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة
 “ibadah umrah ke umrah lainnya, dapat menghapus dosa diantara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga “  ( diriwayatkan oleh Muslim : 1349 )
Suatu ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya “ amalan apakah yang paling utama ? “ beliau menjawab “ beriman kepada Allah dan RasulNya “, ditanya lagi  “ lalu apa ? “ beliau berkata “ berjihad di jalan Allah “, “ lalu apa ? “. Beliau berkata  “ lalu haji yang mabrur “ ( diriwayatkan oleh Bukhari : 1519 dan Muslim : 83 ) 
Kepada Siapakah Haji Diwajibkan ?
Ibadah haji merupakan rahmat kasih sayang Allah yang besar bagi hambaNya. Dimana haji adalah salah satu rukun islam, yang semestinya wajib untuk ditunaikan, akan tetapi karena rahmat Allah, haji tidak diwajibkan kecuali mereka yang terpenuhi syarat – syaratnya.
Beragama islam adalah syarat inti diwajibkannya ibadah haji , karena bentuk ibadah apapun yang dilakukan oleh orang kafir tidak akan sah dan tidak akan diterima oleh Allah sampai ia masuk islam.
Syarat selanjutnya adalah harus berakal, dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ali radhiallahu anhu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda 
رفع القلم عن ثلاث عن النائم حتى يستيقظ و عن الصبي حتى يبلغ و عن المجنون حتى يفيق
“ diangkatnya pena dari tiga golongan : dari orang yang tidur sampai ia bangun, anak kecil sampai ia baligh, dan orang gila sampai ia sadar “ ( diriwayatkan oleh Abu Dawud : 4401 )
Sehingga orang yang tidak berakal apabila menunaikan ibadah haji tentunya tidak akan sah ibadahnya. 
Dari hadits diatas dapat kita ambil syarat ketiga, yaitu harus sudah baligh. Tapi dengan begitu apakah bila anak kecil yang belum baligh menunaikan ibadah haji maka hajinya tidak sah ?. ternyata tidak, diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiallahu anhuma bahwa seorang wanita mengangkat anaknya seraya berkata “ wahai Rasulullah, apakah bagi anak ini ( boleh ) menunaikan haji ? “ beliau berkata “ iya, dan pahalanya untukmu “ ( diriwayatkan oleh Muslim : 1336 )
Akan tetapi, meski ibadah haji anak yang belum baligh telah dianggap sah, bukan berarti tak perlu melakukan lagi, ia masih harus menunaikan ibadah haji yang wajib apabila ia telah baligh nanti. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
أيما صبي حج ثم بلغ فعليه حجة أخرى و أيما عبد حج ثم عتق فعليه حجة أخرى
“ bila anak kecil menunaikan haji kemudian ia telah baligh, maka wajib baginya menunaikan haji yang lain, bila hamba sahaya  menunaikan haji kemudian ia bebas, maka wajib baginya menunaikan haji yang lain “ ( diriwayatkan oleh Al Baihaqy 5 / 179 dan dishahihkan oleh syaikh Albani dalam Irwa Al Ghalil no. 987 )
Syarat selanjutnya yang hukumnya tak jauh beda dengan baligh adalah bebas dari perbudakan, sebagaimana dijelaskan dalam hadits diatas, bila seorang budak menunaikan haji maka hajinya sah dan bukan berarti menggugurkan haji wajibnya. Karena seorang budak hukumnya persis seperti hukum anak yang belum baligh apabila menunaikan haji .
Syarat yang terakhir dari syarat – syarat wajibnya haji adalah mampu melaksanakannya, kemampuan melaksanakan haji tidak hanya dalam bentuk harta saja, akan tetapi sangat luas mencakup banyak hal. Seorang yang akan naik haji harus memiliki ilmu bagaimana menunaikan haji dengan baik dan benar, mengetahui rukun, syarat, kewajiban, larangan, dan sunnah – sunnah manasik haji sehingga ia bisa beribadah sesuai yang diajarkan.
Ia harus memliki kemampuan harta demi melancarkan perjalanan safar, persiapan bekal, tempat tinggal, pengurusan berkas, dan juga hal hal lainnya yang diperlukan untuk menunaikan ibadah hajinya.
Ia harus memiliki kemampuan fisik untuk melakukan perjalanan safar dan melaksanakan manasik manasik haji . Dan masih banyak lagi contoh – contoh kemampuan melaksanakan haji yang tidak bisa kita sebutkan secara rinci disini.
Salah satu hal terpenting berkaitan dengan kemampuan menunaikan ibadah haji adalah adanya mahram bagi wanita. Karena tidak boleh bagi seorang wanita untuk melakukan perjalanan safar baik untuk haji ataupun lainnya kecuali harus ada mahram yang menemani. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
لا يحل لامرأة تؤمن بالله و اليوم الآخر أن تسافر سفرا يكون ثلاثة أيام فصاعدا إلا معها أبوها أو ابنها أو زوخها أو أخوها أو ذو محرم له
“ tidaklah halal bagi seorang wanita untuk  melakukan perjalanan safar selama tiga hari atau lebih kecuali ia ditemani oleh bapaknya, anak,suami, saudara laki – laki, atau mahramnya yang lain “ ( diriwayatkan oleh Muslim : 1340 ).
 Juga sebagaimana perintah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kepada seorang laki – laki yang bertanya kepada beliau : “ sesungguhnya istriku pergi keluar untuk menunaikan haji , sedangkan aku pergi mengikuti perang ini dan itu…..” maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda “ pergi dan hajilah bersamanya.. “ ( diriwayatkan oleh Bukhari : 1862 dan Muslim : 1341 )
Lalu bagaimana bila seorang wanita pergi berhaji tanpa adanya mahram ?, para ulama menjelaskan bahwa apabila seorang wanita menunaikan ibadah haji tanpa seorang mahram maka ibadahnya sah akan tetapi ia berdosa.

Dari uraian diatas, dapat kita simpulkan bahwa seorang muslim yang telah terpenuhi syarat – syarat diatas maka ia wajib menunaikan haji yang merupakan kewajiban rukun islam kelima baginya.



Sekian sedikit dari kami yang kami harapkan dapat bermanfaat bagi anda semua. Bagi anda yang ingin menambah wawasan tentang haji, silahkan download video panduan pelaksanaan ibadah haji di bawah ini yang secara resmi dipersembahkan oleh Kementrian Agama Saudi Arabia. wallaahu a'lam

hari asyuro dalam sejarah

Di riwayatkan dari Ibunda Aisyah semoga Allah meridhoinya, beliau berkata: "Adalah orang-orang Qurais pada zaman Jahiliyah berpuasa pada hari Aysuro, dan Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam juga berpuasa pada hari itu pada zaman Jahiliyah, ketika beliau datang ke Madinah beliau pun berpuasa (pada hari itu) dan menyuruh (sahabatnya) untuk berpuasa, mana kala telah di wajibkan untuk berpuasa pada bulan Ramadhan maka hari Aysuro di tinggalkan, siapa yang menghendaki berpuasa maka berpuasa siapa yang tidak mau maka boleh meninggalkanya". HR Bukhari no: 202, Muslim no: 1125.


Hadits ini menunjukan bahwa orang-orang Jahiliyah dahulu mereka telah mengetahui adanya puasa pada hari Asyuro, di mana hari itu adalah hari yang sudah di kenal di kalangan mereka, bahwasanya mereka juga melakukan puasa pada hari-hari tersebut, begitu pula Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam juga ikut berpuasa, dan puasanya terus berlanjut sampai beliau hijrah ke Madinah, namun tidak menyuruh para sahabatnya untuk berpuasa, maka hal ini menunjukan atas kesucian dan agungnya kedudukan hari tersebut bagi orang-orang Arab pada zaman Jahiliyah sebelum di utusnya Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam, oleh karena itu mereka pada hari itu menutupi Ka'bah, sebagaimana di kisahkan dalam hadits Aisyah semoga Allah meridhoinya, beliau berkata: "Adalah orang-orang pada zaman Jahiliyah, mereka berpuasa pada hari Asyuro, sebelum di wajibkanya puasa Ramadhan, dan bertepatan dengan hari itu Ka'bah ditutupi dengan kain kiswah..".HR Bukhari no: 1952.

Berkata Imam al-Qurthubi mengomentari hadits yang di riwayatkan Aisyah: "Hadits Aisyah menunjukan bahwa berpuasa pada hari tersebut sudah di kenal di kalangan mereka, akan kedudukan nya dan di syari'atkanya (untuk berpuasa), kemungkinan adanya mereka melakukan puasa karena mereka menganggap bahwa itu bagian dari syari'at Nabi Ibrohim dan anaknya Isma'il Alaihima sallam, karena sesungguhnya mereka sering menasabkan dirinya pada kedua Nabi tersebut, dan juga sering kali mereka menasabkan kepada keduanya dalam masalah hukum-hukum yang berkaitan dengan ibadah haji dan ibadah yang lainya.."[i]

Dan yang bisa di ambil faidahnya dari sekumpulan hadits-hadits di atas adalah bahwa berpuasa pada hari Asyuro pertama kalinya adalah wajib sebelum hijrahnya Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam ke Madinah, menurut pendapat yang kuat dari kalangan para ulama.[ii] Berdasarkan ketetapan perintah dari Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam, di riwayatkan dari Salamah bin al-Akwa' semoga Allah meridhoinya berkata: "Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam menyuruh seorang yang baru masuk Islam supaya (ketika pulang ke kabilahnya) menyeru kepada manusia, bahwa siapa yang sudah terlanjur makan (maksudnya tidak berpuasa pada hari Asyuro.pent) hendaknya berpuasa pada sisa harinya, sedangkan siapa yang belum makan (apa-apa) maka hendaknya berpuasa, karena pada hari ini adalah hari Asyuro". HR Bukhari no: 2007, Muslim no: 1135. Dan hadits ini mempunyai penguat dari hadits Rubayi' bint Mu'wadz yang di keluarkan oleh Bukhari no: 1860.

Ketika di wajibkanya puasa pada bulan Ramadhan, yaitu pada tahun kedua setelah hijriyahnya Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam maka kewajiban untuk berpuasa pada hari Asyuro di hapus, dan hukumnya tetap tapi menjadi sunah, sedangkan perintah untuk berpuasa pada hari Asyuro tidak pernah terjadi melainkan dalam setahun sekali yaitu pada tahun kedua hijriyah ketika di wajibkan puasa Asyuro pada awal tahun, kemudian pada pertengahannya di wajibkan untuk berpuasa Ramadhan. Kemudian Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam berniat pada akhir hayatnya –yaitu pada tahun kesepuluh hijriyah- untuk tidak berpuasa pada hari kesepuluh, namun akan berpuasa pada hari sebelumnya yaitu hari ke Sembilan. Sebagaimana akan datang penjelasanya pada bab berikutnya –insya Allah- yang mana itu merupakan bagian dari bentuk-bentuk menyelisihi ahli kitab di dalam tata cara pelaksanaan puasa mereka.

Ya Allah, Dzat yang tidak terpengaruh dengan perbuatan maksiat hamba -Nya, Dzat yang tidak mengambil manfaat dari ketaatan hamba -Nya. Berilah kami kemudahan untuk kembali dan bertaubat kepada -Mu, Wahai Rabb kami bangunkanlah kami dari tidur kelalaian, ingatkanlah kami supaya kami bisa menggunakan waktu-waktu yang terbuang. Ya Allah jadikanlah kami di antara orang-orang yang bertawakal kepada -Mu, lalu berilah kami kecukupan akan hal itu, Ya Allah sesungguhnya kami memohon kepada -Mu petunjuk, maka berilah kami petunjuk -Mu, memohon kepada -Mu pertolongan, maka turunkanlah pertolongan -Mu, menyembah kepada -Mu maka rahmatilah kami. Sholawat serta salam semoga Allah Ta'ala curahkan kepada Nabi kita Muhammad Sholallahu 'alaihi wa sallam.

diambil dari buku karya Syaikh Abdullah Al Fauzan
edisi terjemahan bahasa Indonesia " hadits - hadits seputar bulan Muharram "
www.islamhouse.com

point - point penting beramal di bulan muharrom

Bulan Muharram telah tiba. Tanpa terasa setahun telah berlalu, kini kita menghadapi setahun yang akan datang. Merupakan nikmat Allah yang sangat besar sehingga kita masih diberi umur untuk tetap dapat beribadah kepadanya di muka bumi ini. Sehingga sudah selayaknya kita bersyukur kepada Allah dengan berusaha menjadikan tahun ini lebih bermanfaat dari sebelumnya.
Bulan Muharram yang merupakan awal tahun Hijriyah, tidak seperti bulan – bulan selainnya. Terdapat beberapa keutamaan yang ada pada bulan ini, termasuk amalan yang disyareatkan pada bulan ini. Pada postingan kali ini, akan kami sebutkan sedikit point – point penting panduan beramal di bulan Muharram yang semoga bisa menambah faedah kepada kita semua dalam memanfaatkan momen berharga ini.


Pertama
Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram, yaitu bulan yang diagungkan baik pada masa jahiliyah maupun islam, sehingga ganjaran amal kebaikan maupun keburukan akan menjadi lebih besar dibandingkan pada bulan – bulan lainnya
Kedua
Satu – satunya bulan yang secara khusus dinisbatkan oleh Allah sendiri kepada dirinya. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam telah menyatakan bulan ini sebagai bulannya Allah. Hal ini menunjukkan besarnya keutamaan dan keagungan bulan mulia ini
Ketiga
 Yang dijadikan acuan dalam penentuan awal bulan Muharram adalah melihat hilal. Maka apabila hilal tidak terlihat, acuan selanjutnya adalah dengan menyempurnakan hitungan tiga puluh hari pada bulan sebelumnya, bulan Dzul Hijjah
Keempat
Mengadakan perayaan tahun baru hijriyah dalam bentuk apapun adalah bidah, baik berupa dzikir khusus, umroh, khutbah, atau acara – acara lainnya yang dikhususkan untuk hari ini. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah melakukannya tidak pula para sahabat dan salafus shalih
Kelima
Peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam tidak terjadi pada bulan Muharram, melainkan pada bulan Rabiul Awwal. Dan mengadakan perayaan hijrah Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam bentuk apapun adalah temasuk bidah, baik berupa muhadharah, pembacaan sejarah hijrah, khutbah, atau kegiatan lainnya.karena seperti ini adalah termasuk perayaan – peraayaan bidah yang tidak pernah sekalipun dilakukan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak pula para sahabat beliau
Keenam
Disunnahkan memperbanyak puasa pada bulain ini. Karena puasa yang utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram
Ketujuh
Sebaik – baik hari pada bulan Muharram adalah hari Asyura, yaitu hari kesepuluh dari bulan Muharram. Karena puasa hari Asyura dapat menghapus dosa – dosa tahun sebelumnya
Kedelapan
Pada bulan Muharram terdapat  peristiwa besar serta tanda kekuasaan Allah, di bulan ini Allah menyelamatkan Nabi Musa beserta kaumnya dari Firaun dan bala tentaranya
Kesembilan
Sebagian orang beranggapan bahwa bulan ini adalah bulan sial. Hal ini sudah jelas merupakan sebuah anggapan yang salah, karena Allah telah melimpahkan keberkahan yang sangat banyak pada bulan ini, sebagaimana yang telah disebutkan di awal

wasiat imam ibnul jauzy kepada anaknya

Siapa yang tidak mengenal Imam Ibnul Jauzy rahimahullah, seorang ulama ahlu sunnah yang sangat mulia dan tinggi keilmuannya. Selain dikenal sebagai ulama yang ahli dalam bidang hadits, beliau juga kaya raya. Walaupun begitu, ternyata perjalanan beliau dalam menuntut ilmu tidak seindah yang kita bayangkan. Dalam postingan kali ini, akan kami bawakan sebuah wasiat beliau yang sangat indah kepada anaknya sebagaimana yang beliau tulis dalam risalahnya yang sangat berharga Laftatul Kabid Fii Nashiihatil Walad,


( ketahuilah wahai anakku, sesungguhnya dahulu bapakku adalah orang yang sangat kaya, ia meninggalkan ribuan harta warisan, tatkala aku dewasa, ( saudara – saudaraku ) memberikan bagianku berupa dua puluh dinar emas dan dua buah rumah, mereka berkata kepadaku : semua warisan ini adalah bagianmu, aku ambil uang – uang dinar itu lalu aku gunakan untuk membeli kitab. Aku juga menjual dua rumah tersebut dan hasilnya aku gunakan untuk menuntut ilmu. Sehingga tidak tersisa sedikitpun harta padaku. Walaupun begitu, bapakmu ini tidaklah sedikitpun merasa hina dalam menuntut ilmu, bapakmu ini tidaklah pernah keluar mengelilingi berbagai negeri hanya demi harta, tidak pernah pula mengirim lembaran kertas kepada seseorang demi memohon sesuatu, urusan – urusan bapakmu berjalan lancar tanpa hambatan, { … dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah maka Ia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rizqi dari jalan yang tidak ia sangka… } At Talaq : 3

Oleh karena itu wahai anakku, berusahalah untuk selalu menjaga kehormatanmu dari meminta – minta atau merasa hina demi dunia dan pemiliknya. Merasalah cukup dengan apa yang engkau miliki maka dirimu akan mulia. Pepatah berkata : “ barangsiapa yang merasa cukup hanya dengan roti dan sayur tak akan ada sorangpun yang bisa menjadikannya budak “.

Dan sungguh, dahulu bila telah datang waktu pagi aku tidak memiliki makanan sedikitpun, dan bila telah datang waktu sore, aku juga tidak memiliki makanan sedikitpun, meski begitu, Allah tidaklah sama sekali membuatku hina dihadapan makhlukNya. Akan tetapi akhirnya Ia mengirimkan rizqiNya kepadaku demi menjaga kehormatanku, sungguh bila kujelaskan keadaan hidupku akan panjang ceritaku, dan kini, inilah aku engkau telah melihat keadaanku kembali berubah seperti dulu…..)

semangat para salaf dalam menulis ilmu

Menulis memiliki banyak sekali kegunaan. Selain sebagai pengikat ilmu pengetahuan, menulis juga banyak digunakan sebagai hobi yang menyenangkan. Menulis diary, jurnal, novel, puisi, cerita, bahkan tak sedikit orang yang setiap hari menulis hanya untuk update status.
Memiliki hobi menulis tentu sangat bermanfaat terutama dalam kancah menuntut ilmu syar’i. Para ulama salaf adalah teladan kita dalam hal ini. Dengan besarnya semangat, kerja keras, dan keikhlasan, mereka telah memberi  kita khazanah ilmu yang sangat berharga dalam buku – buku yang mereka tinggalkan. 
Dalam postingan kali ini, akan kami berikan sedikit kisah dan untaian hikmah para salaf yang semoga dapat menambah semangat kita dalam menuntut ilmu.
Ia Menulis Sementara Aku Tidak
Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata ( tidak ada satupun sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang lebih banyak haditsnya daripada aku, kecuali Abdullah bin Amr, karena sesungguhnya ia menulis sementara aku tidak menulis ) diriwayatkan oleh bukhari : 113
Tulislah Walau Di Dinding
As Sya'by rahimahullah berkata ( bila engkau mendengar sesuatu maka tulislah walaupun di dinding ) diriwayatkan oleh Abu Khaitsamah dalam Al Ilmu no 146
Segera Ia Tulis Karena Takut Hilang
Al Humaidy rahimahullah berkata ( aku pernah pergi bersama Syafi'I ke Mesir, Ia tinggal di atas sementara aku tinggal di tengah, suatu saat aku keluar malam hari dan aku melihat ia menyalakan lentera, maka aku pun berteriak kepadanya, ia mendengar suaraku lalu ia berkata  : naiklah, maka aku naik ternyata ada kertas dan tinta, aku berkata : apa yang engkau lakukan wahai Abu Abdillah ? Ia berkata : terpikirkan olehku makna suatu hadits atau suatu masalah ilmiyah dan aku takut akan hilang dariku maka aku menyalakan lentera dan menulisnya ) Manakib As Syaafi'I : 43
Banyak Sekali Kitab Yang Telah Ia Salin Dengan Tangannya
Adalah Muhammad bin Ahmad bin Qudamah rahimahullah telah menulis ulang banyak sekali kitab dengan tanganya sendiri diantaranya : Al Mughny, Tafsir Al Baghawy, Hilyatul Auliyaa, Al Ibaanah milik Ibnu Batthah, dan banyak juga mushaf Al Qur’an yang ia salin.  ( Dzail Thabaqaat Hanabilah 2 / 53 )
Bila Tidak Ditulis Maka Sia – Sia
Ma’mar rahimahullah berkata ( aku meriwayatkan beberapa hadits kepada Yahya bin Abi Katsir , lalu ia berkata : tuliskan untukku hadits ini dan hadits ini, maka aku berkata : aku tidak suka menulis ilmu, ia berkata : tulislah karena sesungguhnya bila engkau tidak menulis maka engkau telah berbuat sia – sia ) atau ia berkata ( …..engkau akan lemah ) diriwayatkan oleh Abdurrazaq dalam Al Mushannaf no. 20488
Jangan Pergi Sampai Aku Menulisnya
Abdurrahman bin Mahdy rahimahullah berkata ( aku pernah berjalan bersama Abdullah bin Mubarak lalu aku ingatkan ia tentang suatu hadits, maka ia berkata : jangan pergi sampai aku menulisnya ) Hilyatul Auliyaa ( 9 / 3 )
Ia Menulis Apapun Yang Ia Dengar
Abu Az Zinaad rahimahullah berkata  ( dahulu kami hanya menulis halal dan haram saja, sementara Ibnu Syihab menulis apapun yang ia dengar, maka tatkala hal – hal tersebut dibutuhkan, akupun tahu bahwa Ibnu Syihab adalah orang yang paling berilmu ) Siyar A’laamin Nubala ( 5 / 332 )
Tanpa Tulisan Tak Akan Bisa Hafal
Abu Shalih Al Faraa’ rahimahullah berkata  ( aku bertanya kepada Ibnul Mubarak tentang pentingnya menulis ilmu, maka ia berkata : kalau bukan karena tulisan tentulah kita tak akan hafal ) Siyar A’laamin Nubalaa ( 8 / 409 )
Menulis Sambil Berdiri
Abu Fadhl bin Nabhan Al Adiib rahimahullah berkata ( suatu ketika aku melihat Abul Alaa di dalam salah satu masjid diantara masjid – masjid Baghdad, Ia sedang menulis sambil bediri diatas kedua kakinya, karena lentera – lentara di tempat itu sangat tinggi ) Dzail Thabaqaat Hanabilah 1 / 326
Seakan Setiap Hari Menulis Enam Puluh Lembar Lebih
Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir At Thabary rahimahullah bisa dibilang keajaiban bagi umat islam. Ia telah menulis banyak kitab dalam berbagai bidang ilmu, seandainya jumlah seluruh kertas yang telah ia tulis dibagi dengan jumlah umurnya, maka seakan setiap hari beliau menulis enam puluh lembar lebih. Suatu ketika ia menyuruh murid – muridnya untuk menulis tarikh islam atau tafsir, lalu beliau meminta disediakan tiga puluh ribu lembar kertas. Maka para muridnya berkata ( pekerjaan ini akan membutuhkan waktu yang sangat panjang ) maka ia berkata kepada mereka ( Allahu Akbar ! telah matikah semangat kalian, sediakan tiga puluh ribu lembar kertas ) Tadzkiratul Huffadz 2 / 712

Hikmah Syareat Puasa

Tak jarang terbesit di benak orang “ mengapa aku harus puasa di bulan Ramadhan ? “, atau mungkin ada yang bilang puasa sebulan penuh kan memberatkan sekali, ga boleh ini, ga boleh itu, kenapa harus wajib ? “, dan masih banyak mengapa…mengapa… yang lain.
Dalam artikel kali ini akan kami utarakan sedikit keutamaan, dalil dan alasan mengapa disyareatkan puasa Ramadhan, yang semoga saja bisa menambah kuat keyakinan kita terhadap agama yang mulia ini dan semoga bisa menjadi jawaban bagi mereka yang masih bertanya “ mengapa….? “.
-        
      Karena Puasa Adalah Perintah Agama

Ini adalah jawaban yang paling utama dan paling mutlak. Dalam segala bentuk ibadah, ketika ditanya mengapa, jawabnya “ karena ini adalah perintah agama “. Seseorang tidaklah layak beragama islam sampai ia menyerahkan diri dan menerima sepenuhnya agama islam, karena arti dari islam sendiri itu adalah “ menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah “. Sehingga segala bentuk perintah agama wajib diterima dan dilaksanakan termasuk diantaranya adalah puasa.
-      
       Karena Puasa Adalah Rukun Islam

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu umar radhiallahu anhuma Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda  
:
بني الإسلام على خمس شهادة أن لا إله إلا الله و أن محمدا رسول الله و إقاق الصلاة و إيتاء الزكاة و صوم رمضان و الحج و صوم رمضان

( Islam dibangun diatas lima ( pondasi ) : Syahadat laa ilaaha illallah wa anna Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan ibadah haji ( bagi yang mampu ), dan berpuasa di bulan Ramadhan ) diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim
Ibarat sebuah tenda kehilangan satu tiang, masihkah ia tegak menjulang ?. inilah islam, yang tak akan tegak tanpa tiang – tiang nya, yang diantaranya adalah puasa.
-     
       Karena Dengan Puasa Kita Bisa Bertakwa

Mengapa kita diwajibkan berpuasa ?, “ agar kalian kalian bisa bertakwa…… “.

Allah sendirilah yang memberikan jawaban ini kepada kita. Allah ta’ala berfirman :

 “ wahai orang – orang yang beriman telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas  umat  – umat sebelum kalian agar kalian bertakwa “ ( Al Baqarah : 183 )

Dengan berpuasa terwujudlah hakekat takwa. Bagaimana tidak, sedangkan orang yang berpuasa menjauhi segala hal yang dapat membatalkan puasanya karena taat kepada Allah dan menjauhi larangan-Nya, dengan ini terwujudlah takwa. Karena ia menaati perintah Allah berupa puasa, dan menjauhi larangan Nya yang berupa pembatal – pembatal puasa.
-      
       Agar Terhapus Dosa Dan Mendapat Banyak Pahala

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

من صام رمضان إيماناً واحتساباً غُفر له ما تقدم من ذنبه

“ barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa – dosanya yang telah lalu “ ( diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim )

Tidak hanya dihapusnya dosa, pahala yang tak terhingga pun didapat juga, sebagaimana dalam hadits qudsi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

يقول الله تعالى: كل عمل ابن آدم له، الحسنة بعشر أمثالها، إلا الصيام فإنه لي وأنا أجزي به، ترك شهوته وطعامه وشرابه من أجلي، للصائم فرحتان: فرحة عند فطره، وفرحة عند لقاء ربه، ولَخلوف فم الصائم أطيب عند الله من ريح المسك

Allah ta’ala berfirman “ setiap amalan anak Adam adalah untuk dirinya sendiri, dan setiap kebaikan akan dilipat gandakan sepuluh kali lipat kecuali puasa, karena puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku sendirilah yang akan membalasnya, ia meninggalkan syahwat, makanan, dan minumnya hanya karena untuk-Ku. Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan : bahagia ketika ia berbuka, dan bahagia ketika ia bertemu dengan Rabb-nya, dan sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum dari bau misk “ ( diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim )
-      
       Agar Mudah Masuk Surga Dan Terhidar Dari Neraka

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

“ sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pintu yang disebut sebagai Ar Rayyan, yang hanya dimasuki oleh orang – orang berpuasa dan tidak ada satupun yang masuk kecuali mereka. Tatkala ada yang menyeru “ manakah orang – orang yang berpuasa ? “ maka merekapun memasuki pintu tersebut dan tak ada yang masuk dari pintu tersebut selain mereka. Hingga apabila mereka telah memasukinya pintu tersebut akan ditutup dan tak ada lagi yang akan memasukinya “ ( diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim )

Tidak hanya itu, orang yang gemar berpuasa akan terhindar dari adzab neraka. Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

“ barangsiapa yang berpuasa satu hari fi sabilillah, maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh 70 tahun ( perjalanan ) “ ( diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim )

-         Karena Begitu Banyaknya Keutamaan Di Bulan Ramadhan

Mari kita merenung sejenak, “ mengapa puasa diwajibkan pada bulan Ramadhan ? “  sebelum menjawab pertanyaan ini, timbul pertanyaan lain yang perlu kita jawab terlebih dahulu “ apa saja keutamaan yang ada di bulan Ramadhan ? “, sedikit akan kami sebutkan beberapa keutamaan bulan Ramadhan yang diantaranya :

            Al Qur’an Diturunkan Pada Bulan Ramadhan

Allah ta'ala berfiman :

“Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan  (permulaan ) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda  ( antara yang hak dan yang bathil ) “ ( Al Baqarah : 185 )

            Bulan Ramadhan Adalah Bulan Penuh Berkah, Rahmat, Dan Mustajabnya Doa

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

إذا دخل شهر رمضان فتحت أبواب الرحمة و غلقت أبواب جهنم و سلسلت الشياطين

“ apabila telah masuk bulan Ramadhan, maka dibukalah pintu – pintu rahmat, sedangkan pintu – pintu neraka jahannam ditutup, dan setanpun dibelenggu “ ( diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dan ini adalah lafadz Muslim )

Bulan Ramadhan Bulan Ibadah Dan Amal Kebaikan

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam apabila telah memasuki sepuluh malam terakhir, beliau mengencangkan sarungnya untuk beribadah dan beliau membangunkan keluarganya untuk menghidupkan malam hari dengan ibadah.

Dari beberapa keutamaan yang telah disebutkan diatas, jelaslah bagi kita mengapa Allah mewajibkan puasa di bulan Ramadhan yang tentunya tidak seperti pada bulan – bulan lainnya, dan masih banyak keutamaan lain yang bisa anda lihat di artikel kami lainnya           “ Inilah Sepuluh Keutamaan Bulan Ramadhan “.

Lalu Bagaimana Dengan Orang Yang Tidak Mau Berpuasa ?

Orang yang tidak mau berpuasa terbagi menjadi dua :

-         Tidak mau berpuasa karena ingkar

 Seperti mengingkari kewajiban puasa Ramadhan, meyakini bahwa khusus untuk  dirinya terbebas dari kewajiban puasa, atau menganggap bahwa puasa yang wajib bukan di bulan Ramadhan, dan masih banyak lagi contoh sejenis, maka yang demikian ini hukumnya kafir, karena ia telah mengingkari salah satu rukun islam yang disyareatkan kepadanya.

Imam Ad Dzahaby rahimahullah berkata :

( Ibnu Abbas radhiallahu anhu berkata ( tiang – tiang islam dan intinya ada tiga : syahadat laa ilaaha illallah, melaksanakan shalat, dan berpuasa Ramadhan. Barangsiapa yang meninggalkan salah satu dari tiga hal itu maka dia telah kafir ) naudzu billah min dzalik ) lihat Al Kabair karangan imam Dzahaby

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata :

( apabila ada orang yang sengaja berbuka di siang hari Ramadhan dengan anggapan bahwa hal itu halal padahal ia mengetahui bahwa hal tersebut adalah haram maka orang itu harus dibunuh…) lihat Majmu’ Fatawa 25 / 265

Serta telah menjadi Ijma’ seluruh kaum muslimin bahwa puasa Ramadhan hukumnya wajib, dan barangsiapa yang mengingkarinya maka ia telah kafir. ( lihat Maratib Ijma oleh Ibnu hazm hal. 70 )

-         Tidak Mau berpuasa Karena malas

Seperti orang yang mengakui bahwa puasa Ramadhan adalah wajib tapi ia tidak berpuasa karena malas – malasan, menganggap remeh urusan puasa, dan karena mengikuti hawa nafsu, atau tidak mau berpuasa tanpa alasan syar’i, maka ulama berbeda pendapat, dan yang paling rajih adalah bahwasannya ia tidak kafir, akan tetapi ia telah berdosa besar dan wajib bertaubat.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah berkata :

( orang yang meninggalkan puasa karena malas atau meremehkan tidaklah kafir, karena hukum asalnya adalah seorang muslim masih dalam keadaan islam sampai ada dalil yang menyatakan bahwa ia telah keluar dari islam, sedangkan orang yang meninggalkan puasa karena malas – malasan tidak ada satupun dalil yang menyatakan bahwa ia telah keluar dari Islam, berbeda halnya dengan shalat, karena sesungguhnya telah banyak sekali dalil dari Al Qur,an, sunnah, maupun atsar para sahabat yang menyatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat karena malas – malasan maka ia telah kafir ) lihat seri ebook Majmu’ Fatawa wa Rasail Syaikh Utsaimin yang ke 19

Demikian sedikit yang bisa kami paparkan, semoga dapat menambahkan keyakinan dan keikhlasan dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan dan semoga bisa menjadi jawaban yang cukup memuaskan untuk yang masih bertanya “ mengapa…..? “

Akhir kata semoga Allah memudahkan kita dalam melaksanakan ibadah di bulan yang penuh berkah ini dan semoga amalan kita diterima di sisi Nya, aamiin.


Top